Catatan Sekilah tentang Macapat

I. Latar Belakang

Macapat sebagai sebutan metrum puisi jawa pertengahan dan jawa baru, yang hingga kini masih digemari masyarakat, ternyata sulit dilacak sejarah penciptaanya. Poerbatjaraka menyatakan bahwa macapat lahir bersamaan dengan syair berbahasa jawa tengahan, bilamana macapat mulai dikenal, belum diketahui secara pasti. Pigeud berpendapat bahwa tembang macapat digunakan pada awal periode Islam. Pernyataan Pigeud yang bersifat informasi perkiraan itu masih perlu diupayakan kesesuaian tahun yang pasti.

II. Pembahasan
A. Istilah Nembang, Tembang, dan Macapat

Kata nembang yang dapat dijumpai dalam teks lisan maupun tulis. Kata tersebut adalah wujud proses afiksasi antara imbuhan an- dan tembang. Imbuhan an- mengakibatkan kata benda dapat berubah menjadi kata kerja. Kata tembang merupakan kata benda. Setelah mendapat imbuhan an- kata tersebut berubah menjadi kata kerja.

Diskripsi di atas memperlihatkan bahwa kata nembang dan tembang adalah satuan kata yang memiliki makna berbeda. Nembang memiliki makna kegiatan melaksanakan atau melagukan tembang. Sedangkan pengertian tembang menurut Brotosejati (2008:8) adalah karya sastra lisan maupun tulis yang memiliki unsur sastra (cakepan) dan lagu yang memiliki aturan tertentu, sehingga menjadi kekhasan karya tersebut. Selain makna di atas, secara bodhon (tidak ilmiah) tembang macapat juga dimaknai sebagai tembang yang cara pembacaannya terpenggal pada tiap empat suku kata (maca papat-papat).

Rangkaian kalimat pada tiap baris terbelenggu oleh serangkaian tata aturan yang tidak dapat langgar. Hal tersebut menjadikan karya ini memiliki rasa yang berbeda, jika dibandingkan dengan karya sastra Jawa lainnya. Teks berstruktur dan lagu yang bersifat pakem juga menjadi komposisi wajib dalam tembang macapat. Tembang macapat selain dapat dilagukan secara individual, karya sastra ini juga dapat dipadukan dengan instrumen musik bernuansa Jawa, misalnya gamelan. Dalam musik karawitan, tembang macapat biasanya disajikan dalam bentuk palaran, santiswaran, gerongan, dan sajian musik karawitan lainnya. Walaupun disajikan dalam bentuk berbeda, konvensi dalam tembang macapat harus tetap ditaati.

B. Konvensi Tembang macapat

Rangkaian struktur dalam teks tembang macapat terdiri atas konvensi-konvensi khusus yang tidak terdapat dalam karya sastra Jawa lainnya. Terdapat sebelas judul tembang macapat yang telah dikenal sampai saat ini. Masing-masing judul tembang memiliki bentuk dan aturan yang berbeda-beda. konvensi yang dimaksud terdiri atas 1) guru gatra, 2) guru lagu, 3) guru wilangan. Penjelasan klasifikasi di atas  adalah sebagai berikut:

1) guru gatra

Menurut Supanggah (2000:2) guru gatra dipahami sebagai sesuatu yang telah terbentuk. Wis gatra berarti telah terbentuk. Gatra dalam karawitan dimaknai sebagai wujud satu sabetan dalam empat ketukan. Hampir sama dengan makna gatra di atas, dalam tembang macapat makna ‘satu sabetan’ adalah sama dengan ‘satu tarikan nafas.’ Satu tarikan nafas dalam tembang macapat dilakukan pada tiap baris.

2) guru lagu

Guru lagu juga dapat disebut dengan dhong-dhing tembang. Dalam bahasa Indonesia, istilah guru lagu adalah istilah yang menunjuk pada huruf fokal yang terdapat pada akhir baris. Huruf vokal yang dimaksud adalah huruf /a/, /i/, /u/, /e/, dan /o/ (Brotosejati 2008:27). seperti halnya guru gatra, konvensi ini tidak dapat digantikan dengan negosiasi apapun. Kelima  huruf vokal tersebut turut berperan dalam penentuan identifikasi judul tembang macapat.

3) guru wilangan

Wilangan secara etimologis diartikan sebagai bilangan. Bilangan yang dimaksud adalah sejumlah suku kata yang terdapat pada satu baris (gatra). Seperti halnya struktur lelagon dolanan yang telah disampaikan di atas, guru wilangan memiliki fungsi penting yang tidak dapat tergantikan oleh kesepakatan baru. Sampai sekarang unsur tersebut masih tetap dipertahankan guna melestarikan dan menjaga keoriginalan suatu karya sastra warisan leluhur.

Wujud guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan dalam uraian di atas dapat dilihat dalam identifikasi tembang mijil dalam table 1. Singkatan /gg/ merupakan kependekan dari guru gatra, /gw/ merupakan kependekan dari guru wilangan, sedangkan /gl/ adalah kependekan dari guru lagu.

Tabel 1. Identifikasi Tembang Mijil

gg Cakepan Klasifikasi
1

2

3

4

5

6

La-li la-li da-tan bi-sa la-li,

La-was sa-ya ka-ton,

Um-pa-mak-na wit-wit-an kang ge-dhe,

Ti-nu-tuh-an da-tan bi-sa ma-ti,

Mra-jak sa-ya se-mi,

Tres-na-ku ngrem-bu-yung.

gw: 10, gl: i,

gw: 6, gl: o,

gw: 10, gl: e,

gw: 10, gl: i,

gw: 6, gl: i,

gw: 6, gl: u,

Jumlah guru gatra pada tembang mijil di atas adalah enam gatra. Pada tiap gatra, guru wilangan dan guru lagu memiliki klasifikasi yang berbeda. Seperti halnya dalam gatra pertama yang memiliki klasifikasi 10i. Angka 10 menunjukkan wilangan dan huruf vocal /i/ menunjukkan guru lagu. Jadi guru wilangan dan guru lagu dalam enam gatra di atas adalah 10i, 6o, 10e, 10i, 6i, 6u.

C. Filosofi Tembang macapat dalam Kehidupan Sosial

Tembang macapat adalah karya sastra yang filosofis, baik dalam cakepan (syair), lagu, maupun judul. Tembang macapat dapat digambarkan sebagai wadah (tempat) yang dapat diisi oleh apapun. Wujud isi yang tertuang dalam cakepan tembang biasanya mengandung pitutur, kritik, sejarah, cerita, maupun ungkapan emosional atau ungkapan perasaan. Selain itu, rangkaian bentuk lagu yang disajikan juga mempengaruhi bobot makna yang terkandung dalam tembang tersebut.

Rumor filsafat kehidupan dalam judul tembang macapat berhasil disajikan Suwardi dalam paparan ilmiah berjudul Wawasan Hidup Jawa dalam Tembang macapat..Ringkasan penelitian tersebut mendiskripsikan urutan tembang macapat sebagai wujud gambaran perjalanan hidup manusia.

1) Maskumambang
Gambaran manusia saat berada di alam ruh. Suatu saat ruh tersebut ditanamkan dalam rahim/ gua garba Ibu yang sedang hamil. Maskumambang merupakan awal cikal bakal kehidupan manusia di alam dunia. Dalam ilmu Psikologi Manusia, masa ini disebut dengan masa pranatal.
2) Mijil
Ilustrasi proses kelahiran manusia digambarkan dalam judul tembang ini. Mijil, mbrojol atau mencolot merupakan ungkapan makna dari judul tembang ini. Kelahiran anak ini adalah awal manusia menghadapi masalah di dunia. Permasalah itu timbul dari rasa dan pola pikir yang telah menjadi bekal manusia sejak awal.

3) Sinom
Sinom
berarti muda. Judul ini menggambarkan kehidupan manusia saat memasuki masa remaja. Kreatis, bringas, bersemangat, dan bersemangat merupakan sifat-sifat tembang tersebut. Pada masa ini manusia belum sepenuhnya terbebani oleh tanggung jawab di dunia.

4) Kinanthi
Masa pembentukan jatidiri dan meniti jalan menuju cita-cita. Kinanti berasal dari kata kanthi atau tuntun yang bermakna membutuhkan tuntunan atau jalan yang benar, agar cita-cita yang diidam-idamkan dapat terwujud dengan baik. Para penuntun adalah lingkungan sekitar manusia tersebut. lingkungan bertanggu jawab atas segala perkembangan sikap yang dimiliki manusia bersangkutan.

5) Asmaradana

Masa ini merupakan masa manusia mencari kesinambungan rasa dan kenyamanan. Dorongan tersebut didasarkan pada gambaran rasa kesepian, mencari kebahagiaan, maupun pengayoman yang hanya dapat ditemukan pada diri pasangan yang berlawanan jenis.

6) Gambuh
Awal kata gambuh adalah jumbuh (bersatu) yang artinya komitmen untuk menyatukan cinta dalam satu biduk rumah tangga. Fase ini adalah fase kegiatan manusia yang menginginkan gaya dan suasana baru dalam kehidupannya. Gaya dan kehidupan baru diharapkan dapat membawa dampak yang positif bagi perkembangan kehidupan manusia tersebut.

7) Dhandhanggula
Dhandhanggula berasal dari kata dhandhang dan gula. Penemuan dalam kamus bahasa Jawa, kata dhandhang memiliki makna burung gagak. Arti tersebut tidak tepat untuk menerjemahkan filosofi kehidupan. Jika dilihat dari bentuk kata, kata dhandhang berasal dari akar kata dhang yang berarti ‘halang’. Apabila benar demikian, kata dhandhang mungkin saja adalah wujud perulanga kata (dwilingga) dari dhang, yaitu dhang-dhang yang berarti ‘terhalang-halangi’. Berdasarkan penjabaran pengertian tersebut, makna dhandhanggula memiliki filosofi kehidupan manusia yang terhalang oleh keindahan dan kebahagiaan dunia.

8) Durma
Sebagai wujud dari rasa syukur kita kepada Allah maka kita harus sering  Durma berasal dari kata darma atau sedekah berbagi kepada sesama. Dengan berderma kita tingkatkan empati sosial kita kepada saudara-saudara kita yang kekurangan, mengulurkan tangan berbagi kebahagiaan, dan meningkatkan kepekaan jiwa dan kepedulian kita terhadap kondisi-kondisi masyarakat disekitar kita.

9) Pangkur
Pangkur
atau mungkur memiliki makna menyingkirkan hawa nafsu angkara murka, nafsu negatif yang menggerogoti jiwa kita. Pada saatnya manusia harus belajar meninggalkan keduniawian dan meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan yang Mahaesa.

10) Megatruh
Megatruh atau megat ruh berarti terpisahnya nyawa dari raga. Fase ini adalah masa sulit yang harus dihadapi semua manusia.

11) Pocung
Tembang pocung memiliki makna akhir kehidupan manusia.

D. Tembang macapat dalam Praktik

Berdasarkan ketentuan dan kaidah penggunaan, tembang memiliki beberapa fungsi penting, yaitu tembang macapat sebagai waosan dan pelengkap instrumen musik (karawitan). Untuk mendapatkan keabsahan dalam menyajikan tembang, beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam nembang adalah:

1) Artikulasi Tembang macapat

Tembang yang memiliki dua struktur penting, yaitu sastra dan lagu. Guna mendapatkan keabsahan tembang, dalam pembacaan cakepan atau sastra harus diperhatikan dengan baik. Misalnya saja kesalahan dalam pengucapan. Pengucapan yang keliru dikhawatirkan akan menghasilkan makna yang berbeda, misalnya penggunaan /dha/ dan /da/ ataupun /tha/ dan /ta/ di bawah ini:

a)      thuthuk dan tutuk

Kata thuthuk memiliki makna yang berbeda dengan tutuk. Thuthuk berarti memukul, sedangkan tutuk berarti mulut.

b)      padha dan pada

Kata padha yang memiliki pengucapan huruf /d/ tebal memiliki makna ‘sama’, sedangkan kata pada merupakan kata yang memiliki makna ‘bait’.

2) Membedakan Laras Pelog dan Slendro

Laras menurut Supanggah (2009:270) diartikan sebagai tangga nada. Dalam tembang macapat terdapat dua tangga nada, yaitu tangga nada pelog dan tanggan nada slendro. Tangga nada pelog terdiri atas tujuh macam nada, yaitu 1 (ji), 2 (ro), 3 (lu), 4 (pat), 5 (ma), 6 (nem), dan 7 (pi). Sedangkan tangga nada slendro terdiri atas lima tangga nada, yaitu 1 (ji), 2 (ro), 3 (lu), 5 (ma), dan 6 (nem).

Keterampilan menyuarakan kedua laras tersebut dapat dilakukan melalu beberapa cara, antaralain:

a)      membiasakan diri mendengarkan gending-gending dan tembang Jawa, baik secara visual maupun melalui media kaset audio.

b)      membiasakan diri menyuarakan laras pelog dan slendro menggunakan media gamelan Jawa.

c)      mengasah kepekaan nada melalu pelatihan menyuarakan gending-gending karawitan.

d)      menguasai minimal satu tembang slendro dan pelog sebagai ancer-ancer atau patokan mengingat nada.

3) Repertoar dan Laya Tembang

Sebagai calon guru, mahasiswa bahasa Jawa wajib mempelajari tembang macapat. Referensi yang harus dikuasai meliputi sebelas tembang yang telah disampaikan di muka.

a) Repertoar Tembang

Hal tersebut disebabkan karena tingkat kebutuhan pembelajaran bahasa Jawa ditingkat sekolah, yang melibatkan tembang sebagai pilihan pembelajaran apresiasi sastra maupun sebagai sarana persiapan menghadapi kompetisi-kompetisi yang diadakan para penyelenggara.

Seorang pengajar tembang atau pemelajar tembang tidak harus menghafalkan semua jenis maupun macam tembang. Hal yang perlu dilakukan adalah dapat membaca notasi apapun. Melalu modal itu, pengajar atau pemelajar tembang tidak akan kesulitan pada saat menemui tembang-tembang yang baru ditemui.

b)      Laya Tembang

Laya dalam nembang waosan tembang macapat oleh Brotosejati (2008:85) memiliki peranan yang penting. Laya berperan sebagai pengatur dinamika sajian tembang. Selain itu, laya juga berperan sebagai media penentu dalam mengungkapkan makna. Laya dalam waosan tembang juga diibaratkan seperti cara pembacaan gancaran, yaitu seperti halnya kecepatan dalam membaca teks berita (ajeg dan lamban).

About Griya Jawa

suka bahasa dan sastra Jawa

Posted on Oktober 20, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. HILDA S.I (X11 BHS SMADA)

    Pak Didik, Seggeng sonten,.
    Pak, kula badhe tangklet.
    Nggen bab Macapat kok ngangge bahasa indonesia, mboten ngangge bahasa jawa, Pak?

  2. Irfan Maulana Ishak

    ya itu betul3!.😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: