Guru: Pendorong atau Penghambat Pendidikan?

1. Pribadi Seorang Guru Bahasa

Kepribadian guru merupakan anugerah dan amana dari Tuhan Yang Mahaesa yang tidak dimiliki setiap orang. Minat dan bakat menjadi alasan yang bersifat intrinsik pada diri seorang guru. Tingkat minat dan bakat sebagai guru pada setiap profesi guru memiliki tingkatan berbeda-beda. Hal tersebut dapat dilihat pada tingkat keberhasilan guru dalam proses pembelajaran.

Guru merupakan salah satu komponen pendidikan yang mengalami tatap muka langsung dengan peserta ajar. Oleh karena itu, dibutuhkan keprofesionalan kerja, sehinggah guru dapat menjadi faktor pendukung dalam proses pembelajaran. Hal tersebut sependapat dengan Anni (2008:1) bahwa efektifitas belajar dilakukan oleh siswa di sekolah tidak semata-mata ditentukan oleh derajat pemilikan potensi siswa yang bersangkutan, melainkan juga lingkungan, terutama guru yang profesional. Seorang pengajar bahasa tentu harus memiliki totalitas keilmuan, sehingga proses pembelajaran yang dapat berjalan dengan maksimal.

Selain guru, terdapat komponen lain dalam keberhasilan pendidikan, antara lain:1) fasilitas memadai, 2) good of management, maupun 3) bahan ajar yang tepat. Walaupun demikian, guru tetap menjadi kunci keberhasilan pembelajaran, karena seorang guru merupakan orang yang meramu proses pembelajaran yang sesuai dengan keadaan kelas. Tanpa keprofesionalan dalam merangkai semua komponen, proses pembelajaran tidak akan dapat berhasil dengan baik.

2. Guru Profesional dan Guru Penyebar Virus Negatif

Masyarakat memandang keberhasilan suatu lembaga pendidikan berdasarkan prestasi yang diraih. Penilaian secara kuantitas tersebut juga berlaku pada pembelajaran bahasa, walaupun tingkat keberhasilan pembelajaran bahasa tidak sekedar dapat diukur dalam sebuah nilai. Sebagai guru profesional, pengajar bahasa harus dapat memenuhi kriteria keberhasilan pembelajaran bahasa pada sisi kuantitas maupun kualitas.

Menurut Asmani (2009:21-24) guru yang baik memiliki sifat 1) memahami profesinya, 2) rajin membaca dan menulis, 3) sensitif terhadap waktu, 4) kreatif dan inofatif, dan 5)memiliki kecerdasan intelektual, moral, social, emosional, dan motorik. Hal tersebut diperkuat pendapat Sutadipura (1985) dalam bahasa inggris, “a quality to be make up of associative and ideational fluency, originality, adoptive, and spontaneous flexibility, and the ability to make logical evaluation,” yaitu kesanggupan menemukan suatu hal yang baru melalui daya khayal, fantasi atau imajinasi.

Douglas Brown J. (dalam Asmani 2009) menyampaikan ciri-ciri seorang guru, terutama guru yang mengajarkan kebahasaan, yaitu:

  1. Mempunyai keingintahuan yang tinggi (curiosity), selalu mempelajari atau mencari tahu tentang segala sesuatu yang masih belum jelas dipahami,
  2. Setiap hal dianalisis terlebih dahulu, disaring, diualifikasi untuk ditelaah dengan dimengerti, dan diendapkan dalam ‘gudang pengetahuan,’
  3. Memiliki intuisi yang tajam, yaitu kemampuan bawah sadar yang menghubungkan gagasan lama guna membentuk ide-ide baru,
  4. Self disciple mengandung makna kekreatifan guru dalam melakukan pertimbangan sebelum mengambil keputusan,
  5. Tidak mudah puas dengan hasil sementara,
  6. Suka melakukan introspeksi,
  7. Mempunyai kepribadian yang kuat dan tidak mudah melakukan instruksi tanpa pemikiran yang matang.

 

Guru bahasa menghadapi pembelajaran praktis dan teoritis. Guru akan menjadi sebuah virus yang memberi dampak negatif jika melakukan kesalahan dalam pembelajaran. Tidak semua guru dapat menguasai ilmu praktik dan teoritis. Terkadang terdapat guru yang mahir menyampaikan materi pola kalimat, namun lemah dalam memberi contoh cara membaca puisi yang baik.

Sikap guru yang dapat memberikan dampak negatif diantaranya adalah 1) membatasi proses pembelajaran, 2) tidak memberikan kesempatan bertanya kepada anak, 3) tidak mau terbuka dengan materi yang akan disampaikan, 4) mudah marah dan emosional saat peserta ajar membuat kesalahan, 5) pembelajaran tidak bervariatif, 6) guru tidak memberikan materi secara valid atau mengarang indah, dan 7) guru tidak mau belajar hal yang baru. Sifat tersebut pasti akan menghambat proses pembelajaran dan menjauhkan proses tersebut pada suatu keberhasilan pembelajaran.

3. Referensi

Anni, Catharina Tri. dkk. 2008. Psilologi Belajar. Semarang: Unnes Press.

Asmani, Jamal Ma’mur. 2009. Tips Menjadi Guru: Inspiratif, Kreatif, dan Inovatif. Jogjakarta: Diva Press.

Sutadipura, Balnadi. 1985. Aneka Problem Keguruan. Bandung: Angkasa.

About Griya Jawa

suka bahasa dan sastra Jawa

Posted on Oktober 20, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: