Lagu Ilir-Ilir: Salah Satu Maksud dan Makna Pembaca

Image

Lelagon Ilir-Ilir

Lir-ilir

tandure wus sumilir,

Tak ijo royo-royo,

Tak sengguh penganten anyar,

 

Bocah angon

Penekna blimbing kuwi,

Lunyu-lunyu peneken,

Kanggo mbasuh dodot ira,

 

Dodot ira

Kumitir bedhahing pinggir,

Damana jlumatana,

Kanggo seba mengko sore,

 

Mumpung gedhe rembulane,

Mumpung jembar kalangane,

Ya suraka,

surak hore,

 

Maksud Lagu Ilir-Ilir

Ilir memiliki makna ‘kipas’. Kata ini juga di memaknai ‘perumpamaan’. Kata lir dalam kamus bahasa Jawa berarti ‘seperti dan adai’. Tandur berarti tanam. Makna tanam dalam hal ini adalah ilmu yang disampaikan kepada seseorang. Ijo royo-royo adalah  perumpamaan atas ilmu yang telah diamalkan dan dikembangkan secara semangat oleh para siswa. Semangat yang digunakan ibarat temanten anyar. Pengantin baru adalah seseorang yang telah memiliki semangat baru di dalam hidup baru. Bagi yang pernah merasakan, pengantin baru adalah seseorang yang memiliki birahi hidup untuk bersama pendampingnya. Hal tersebut berlaku terhadap suatu ilmu. Beberapa orang telah mengalami birahi dengan ilmu. Jika ilmu tersebut telah memikat hati seseorang, waktu ataupun keadaan jiwa pasti tidak akan menjadi penghalang.

Berdasarkan penjelasan tersebut, pengertian bait pertama pada karya di atas adalah sebagai berikut. Ilmu yang telah berhasil ditanamkan kepada seseorang (siswa), maka ilmu tersebut semakin lama akan semakin tumbuh berkembang. Tumbuh kembang ilmu tersebut adalah akibat dari rasa cinta seseorang terhadap ilmu tersebut. Cinta terhadap ilmu mengakibatkan menumbuhkan semangat untuk selalu mengembangkan ilmu dengan baik.

Bocah angon (seorang penggembala) adalah untuk menggambarkan seseorang yang sedang menuntut ilmu. Bocah angon ngelmu (seorang siswa) ini digambarkan sedang memanjat pohon blimbing. Kata penekna blimbing kuwi (panjatlah pohon itu) adalah gambaran usaha siswa dalam mendapatkan ilmu yang diinginkan. Mengapa harus pohon blimbing? Bentuk buah blimbing sepintas seperti bintang yang memiliki lima sisi lancip. Angka lima sangat lekat dengan kehidupan Jawa. Kedekatan bangsa Jawa dengan angka lima, misalnya larangan ma lima (madat, minum, medok, main, maling), pasaran (pon, wage, kliwon, legi, paing), pandhawa sebagai tokoh herois masyarakat Jawa, dan lain sebagainya.

Lunyu-lunyu peneken (licin-licin panjatlah) diibaratkan sebagai wujud usaha cah angon (siswa) dalam menuntut ilmu kebajikan (blimbing). Baris yang berbunyi “kanggo masuh dodot ira” yang memiliki makna ‘untuk mencuci kain/ pakaianmu’ memiliki makna yang sangat dalam. Dodot (pakaian) dapat dimaknai dengan ‘harga diri’. Dalam falsafah Jawa, “ajining raga saka busana,” menandakan bahwa makna dari busana adalah harga diri. Seseorang yang memiliki pengetahuan yang baik akan lebih disegani di tengah masyarakat, dari pada orang yang tidak memiliki pengetahuan (bodoh). Keseluruhan makna dalam bait kedua adalah seseorang yang telah berusaha untuk mendapatkan suatu pengetahuan, maka pengetahuan itu akan bermanfaat bagi dirinya.

Dalam bait ketiga baris pertama, terdapat kata kumitir (diputar) dan bedhah pinggir (sobak di samping). Kumitir adalah simbol keragu-raguan dalam menuntut ilmu, sedangkan bedha pinggir adalah akibat yang terjadi karena suatu keragu-raguan. Dalam menuntu ilmu, seseorang tidak boleh ragu-ragu. Orang tersebut harus mantap, maju terus, dan pantang menyerah. Setelah mendapatkan ilmu yang diinginkan, maka hal yang perlu dilakukan adalah mengembangkan dan melaksanakan ilmu tersebut.

Domana dan jlumatana memiliki arti yang sama, yaitu jahitlah. Kata yang memiliki makna jahit ini adalah wujud usaha seseorang untuk menutupi kesalahan yang terjadi. Kata seba di dalam baris keempat bait ketiga memiliki makna ‘menghadap’. Seba dalam hal ini adalah dapat diartikan sebagai pertemuan murid dan guru atau suatu wujud pergaulan. Jika kata tersebut diartikan sebagai pertemuan antara murid dan guru, maka kalimat tersebut dapat dimaknai sebagai suatu usaha murid untuk menuntut ilmu ketahap selanjutnya. Jika seba dalam hal ini diartikan sebagai pergaulan, maka arti baris ini dapat disumpulkan sebagai suatu usaha murid untuk menggunakan norma-norma ilmu dalam mencari pergaulan. Namun, berdasarkan indikasi makna yang telah diuraikan pada baris di atas, bait ketiga ini dapat diartikan sebagai usaha murid dalam mencapai ilmu yang lebih tinggi.

Mumpung gedhe rembulane (mumpung besar rembulannya) dan mumpung jembar kalangane (mumpung luas keadaanya) menggambarkan suatu kesempatan yang sangat baik. Kesempatan baik ini diukur dengan umur murid tersebut. Umur produktif tidak boleh disia-siakan. Seseorang dianjurkan untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya, sehingga tidak ada penyesalan di kemudian hari. Selanjutnya, kata ya suraka surak hore adalah kata yang mencerminkan semangat. Seseorang dalam menuntut limu harus memiliki semangat tinggi. Hal ini juga telah dibicarakan pada bait pertama. Melalui semangat yang tinggi, ilmu yang didapatkan akan semakin maksimal.

About Griya Jawa

suka bahasa dan sastra Jawa

Posted on Maret 4, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: